Home » » Saman, Ayu utami

Saman, Ayu utami

Author: Ayu Utami
Genre: Fiksi Sejarah
Publisher: KPG (kepustakaan populer Gramedia)
Publication Year: 2002
ISBN: 9789799105707

Buku ini adalah buku yang amat sangat berani. Berbeda dengan literatur (teenlit, chicklit, I’m looking at you cough) jaman sekarang yang kebanyakan membahas cinta sebagai hal akhir yang dicari-cari karakter dan menjadi tema sentral, Saman juga membahas cinta, tetapi cinta dilihat dari sisi-sisi kritis dan dikemas dalam gaya menulis yang tajam dan menantang. Inilah yang membuat Saman sangat unik.

Overview

Empat perempuan bersahabat sejak kecil. Shakuntala si pemberontak. Cok si binal. Yasmin si”jaim”. Dan Laila, si lugu yang sedang bimbang untuk menyerahkan keperawanannya kepada lelaki beristri.

Tapi diam-diam dua di antara sahabat itu menyimpan rasa kagum pada seorang pemuda dari masa silam: Saman, seorang aktivis yang menjadi buron dalam masa militer Orde Baru. Kepada Yasmin, atau Lailakah, Saman akhirnya jatuh cinta?

***

Sejak terbit bersamaan dengan Reformasi, Saman tetap diminati dan telah diterjemahkan ke delapan bahasa asing. Novel ini mendapat penghargaan dari dalam dan luar negeri karena mendobrak tabu dan cakrawala sastra.

Karya klasik yang wajib dibaca.

Lebih lanjut tentang Ayu Utami bisa dikuti di ayuutami.com atau twitter @bilanganFu.

Central park, 28 Mei 1996

Di taman ini, saya adalah seekor burung . terbang beribu-ribu mil dari sebuah negeri yang tak mengenal musim, bermigrasi mencari semi, tempat harum rumput bisa tercium, juga pohon-pohon, yang tak pernah kita tahu namanya,atau umurnaya.

Aroma kayu, dingin batu, bau perdu dan jamur-jamur adalah mereka bernama, atau berumur? Manusia menamai mereka, seperti orang tua memanggil anak-anaknya, meskipun tetumbuhan itu lebih tua. Rafflesia arnoldi, memang tidak mekar di central park, melainkan dihutan tropis dataran tinggi Malaya, tetapi kita tahu laki-laki Inggris kemudian menjadi ayah bunga itu. Orang-orang berbicara tentang segala yang tumbuh, yang ditaman maupun liar, seolah mengenal mereka lebih daripada pokok-pokok itu sendiri mengenal dingin dan matahari, ataupun hangat bumi. Namun binatang tidak menghafal pohon-pohon karena namanya, seperti seekor induk atau sepasang tidak memanggil tetasannya atau susunya dengan nama. Mereka mengenal tanpa bahasa.

Ditaman ini hewan hanya bahagia, seperti saya, seorang turis di New York. Apakah keindahan perlu dinamai?

Pemenang sayembara Roman Dewan kesenian Jakarta

Saman mampu menangkap carut-marut zamannya dan mengisahkannya dengan fasih, bahkan tanpa beban. Suatu zaman yang tidak pikuk dengan peristiwa maupun lalulintas informasi kultural, sehingga sukar sering dipahami… ada daya magnet yang membuat pembaca tidak ingin melepaskannya.

Pos teratas

Diberdayakan oleh Blogger.

Ikut kami di Facebook