Home » , » Rumah Kaca, Pramoedya Ananta Toer

Rumah Kaca, Pramoedya Ananta Toer

Author: Pramoedya Ananta Toer
Genre: Fiksi Sejarah
Publisher: Lentera Dipantara
Publication Year: 2011
ISBN: 9799731267

Rumah Kaca diceritakan dari sudut pandang intelejen Belanda terhadap perkembangan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Buku ini memperlihatkan sosok-sosok pelopor kemerdekaan dan kekuatan watak tokoh-tokohnya.

Overview

“Betapa bedanya bangsa-bangsa Hindia ini dari bangsa Eropa, disana setiap orang yang memberikan sesuatu yang baru pada umat manusia dengan sendirinya mendapatkan tempat yang selayaknya di dunia dan di dalam sejarahnya. Di Hindia, pada bangsa-bangsa Hindia, nampaknya setiap orang takut tak mendapat tempat dan berebutan  untuk menguasainya.”
(Pramoedya Ananta Toer)

Roman Tetralogi Buru mengambil latar kebangunan dan cikal bakal nasion bernama Indonesia di awal abad ke -20. Denagan membacanya, waktu kita dibalikan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula.

Kehaduran roman sejarah ini, bukan saja dimaksudkan untuk mengisi sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan, namun juga mengisi isu kesusasteraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini. Karena itu hadir roman ini memberi bacaan alternatife kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dan dari sisinya yang berbeda.

Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku. Dan roman keempat, Rumah Kaca, memperlihatkan usaha kolonial memukul semua kegiatan semua kegiatan kaum pergerakan dalam sebuah operasi pengarsipan yang rapi. Arsip adalah mata radar Hindia yang ditaruh di mana-mana untuk merekan apapun yang yang digiatkan aktivis pergerakan itu. Pram dengan cerdas mengistilahkan politik itu sebagai pe-rumah kaca-an.

Novel besar berbahasa Indonesia yang menguras energi pengarangnya untuk menampilkan embrio Indonesia dalam ragangan negeri kolonial. Sebuah karya pasca kolonial paling bergengsi.

Tetralogi pulau Buru ditulis sewaktu Pramoedya Ananta Toer masih mendekam dalam kamp kerjapaksa tanpa proses hukuman pengadilan dipulau buru. Konon, sebelum dituliskan, roman ini diceritaulangkan oleh penulisnya kepada teman-temannya di pulau tersebut. Hal itu mengisyaratkan dua hal, kesatu bahwa penulisnya memang menguasai betul-betul cerita yang dimaksud. Kedua, agar cerita tersebut tidak menghilang dari ingatan yang tergusur oleh datang perginya peristiwa dan seiring usia yang kian meringsek kedepan.

Pos teratas

Diberdayakan oleh Blogger.

Ikut kami di Facebook