Home » , » Jejak Langkah, Pramoedya Ananta Toer

Jejak Langkah, Pramoedya Ananta Toer

Author: Pramoedya Ananta Toer
Genre: Fiksi Sejarah
Publisher: Lentera Dipantara
Publication Year: 2011
ISBN: 9799731259

Buku ketiga dari Tetralogi buruh. Semangat Minke yang memperjuangkan pribumi dengan jalan jurnalistik. Ia membuat tulisan sebanyak-banyaknya agar pribumi tersadar dari jajahan Hindia Belanda yang sudah berabad-abad dan tidak memberikan keadilan pada pribumi.

Overview

“Sudah lama aku dengar dan aku baca ada suatu negeri di mana semua orang sama di depan Hukum. Tidak seperti di Hindia ini. Kata dongeng itu juga: negeri itu memashurkan, menjunjung dan memuliakan kebebasan persamaan dan persaudaraan. Aku ingin melihat negeri dongengan itu dalam kenyataan.” (Pramoedya Ananta Toer)

Roman Tetralogi Buru mengambil latar kebangunan dan cikal bakal nasion bernama Indonesia di awal abad ke- 20. Dengan membacanya, waktu kita dibalikan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula.

Kehadiran roman sejarah ini, bukan saja dimaksudkan untuk mengisi sebuah periode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan, namun juga mengisi isu kesusasteraan yang sangat minim  menggarap periode pelik ini. Karena itu hadir roman ini memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara laid an dari sisisnya yang berbeda.

Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku. Pembagian ini bisa juga kita artikan sebagai pembelahan gerakan yang hadir dalam beberapa periode. Dan roman ketiga ini, Jejak Langkah, adalah fase pengorganisasian perlawanan.

Minke memobilisasi segala daya untuk bisa melawan bercokolnya kekusaan Hindia yang sudah berabad-abad umurnya. Namun minke tak pilih perlawanan bersenjata. Ia memilih jurnalistik dengan membuat sebanyak-banyaknya bacaan pribumi. Yang paling terkenal tentu saja medan prijaji. Dengan Koran ini, Minke berseru-seru kepada Rakyat pribumi tiha hal: meningkatkan boikot, berorganisasi, dan penghapusan kebudayaan feodalistik. Sekaligus lewat langkah jurnalistik, Minke berseru-seru: “Didiklah Rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.”

Pram memang tidak menceritakan sejarah sebagaimana terwarta secara objektif dan dingin yang selama ini di ampuh oleh orang- orang sekolahan. Pram juga berbeda dengan penceritaan kesilaman yang lazim sebagaimana terskripta dalam buku- buku pelajaran sekolah yang memberi jarak antara pembaca dan kurun sejarah yang tercerita.

Pos teratas

Diberdayakan oleh Blogger.

Ikut kami di Facebook