Home » , , » Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer

Bumi Manusia, Pramoedya Ananta Toer

Author: Pramoedya Ananta Toer
Genre: Fiksi Sejarah
Publisher: Lentera Dipantara
Publication Year: 2011
ISBN: 9799731232

Sebuah buku yang harus dibaca untuk memahami dari mana sejarah permulaan pergerakan rakyat Indonesia.

Overview

“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan” (Pramoedya Ananta Toer)

Roman Tetralogi Buru mengambil latar belakang dari cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke- 20. Dengan membacanya, waktu kita dibalikan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang mengawal penyemaian bangunan nasional yang kemudian melahirkan Indonesia modern.

Roman bagian pertama; Bumi Manusia, sebagai penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.

Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimental: Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya Dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu…. Sembah pengagungan terhadap leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Uh, anak- cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.

“Kita kalah, Ma,” bisikku.

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-bainya, sehormat hormatnya.”

Sumbangan Indonesia untuk Dunia.

“Cerita, ….., selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat difahami daripada sang manusia…. Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap music dan ratap tangis kehidupan; pengetahuannmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.” (Pramoedya Ananta Toer)

Pos teratas

Diberdayakan oleh Blogger.

Ikut kami di Facebook